Langsung ke konten

Keluarga dan rumahIndonesia

Kaus Kaki Adik yang Tertukar

Tito ingin adik bayinya bilang sesuatu. Satu kata saja.

Adik baru datang tiga hari yang lalu. Badannya kecil, pipinya bulat seperti bakpao. Tapi Adik hanya tidur, menguap, dan menangis.

Pagi itu Tito duduk di samping keranjang Adik. Kaus kakinya tidak sama. Satu merah, satu biru. Tidak ada yang heran. Di rumah Tito, kaus kaki memang suka bertukar pasangan semalaman, walau Ibu sudah mengikatnya rapat-rapat.

"Adik, kamu mau main apa?" tanya Tito.

Adik membuka mulut. Air liurnya menetes. Plop! Jadi genangan kecil di selimut.

Tito mencoba lagi. Ia membawa mobil-mobilan dan menjalankannya di tepi keranjang. "Adik, kamu suka mobil?"

Adik bersendawa. Sedikit susu keluar dari mulutnya. Basah lagi.

"Adik, kamu mau apa?" tanya Tito sekali lagi.

Cuma basah.

Ibu datang membawa kain bersih. "Adik belum bisa bicara, Tito. Sebentar ya, Ibu lap dulu." Lalu Ibu pergi mengambil popok.

Tito menghela napas. Ia bersandar pada keranjang dan menyelonjorkan kakinya. Merah, biru. Merah, biru.

Tiba-tiba ia melihat sesuatu. Mata Adik bergerak. Mata kecil itu mengikuti kaki Tito!

Tito menggoyangkan kaki merahnya. Mata Adik ikut ke kanan. Ia menggoyangkan kaki birunya. Mata Adik ikut ke kiri.

"Kamu suka kaus kakiku?" bisik Tito.

Tito menggoyang keduanya sekaligus, cepat sekali. Merah, biru, merah, biru!

"Hik!" kata Adik.

Itu bukan tangisan. Itu juga bukan genangan. Itu suara kecil yang lucu, seperti anak kucing bersin.

"Kamu bilang hik!" Tito tertawa.

Tangan Adik terulur keluar dari selimut. Jari-jarinya yang mungil memegang jari Tito, erat sekali. Hangat, seperti bakpao yang baru diangkat dari kukusan.

Tito tidak bergerak. Ia mendengar napas Adik, pelan, naik dan turun. Kaki merah dan kaki birunya diam, di samping keranjang yang bergoyang sedikit.