Keluarga dan rumahIndonesia
Batang Kayu Bimo
"Batang kayu itu terlalu berat untuk satu berang-berang," kata Kakek. Bimo mendengarnya, lalu ia berlari ke tepi sungai untuk membuktikan bahwa Kakek keliru.
Bimo adalah berang-berang kecil yang tinggal di liang dekat sungai bersama Ayah, Ibu, Kakek, dan adiknya, Lili. Malam ini keluarga mereka mau bermain seluncur. Bimo ingin batang kayu yang besar itu menjadi seluncuran. Ia harus menggulingkannya ke tepi tanah yang licin.
Bimo mendorong. Batang kayu itu diam saja.
"Aku pasti bisa sendiri," katanya.
Ia mendorong lagi, lebih keras. Kakinya terpeleset. Batang kayu itu tetap diam, seberat batu besar.
Bimo mencoba cara lain. Ia mengikat sulur di batang itu dan menarik sambil berjalan mundur. "Hhh!" Sulurnya putus, dan Bimo terduduk di lumpur.
Lili datang sambil mengejar kerikil kecil. Kerikil itu menggelinding, dan Lili menabrak batang kayu. Batang itu bergoyang sedikit. Hanya sedikit, tetapi Bimo melihatnya.
"Lili, kamu menggerakkannya!" kata Bimo.
Bimo menggaruk telinga. Meminta tolong rasanya lebih sulit daripada mendorong. Tetapi ia menarik napas dan berseru, "Tolong! Aku butuh bantuan!"
Ayah datang. Ibu datang. Kakek datang sambil terbatuk-batuk kecil. Semuanya berbaris di belakang batang kayu.
"Satu, dua, dorong!" kata Bimo.
"Satu, dua, dorong!" kata semuanya.
Batang kayu itu bergerak sedikit. Lalu lebih banyak. Lalu ia menggelinding cepat sekali, dan Ayah yang masih mendorong ikut jatuh ke sungai. Byur!
Semua tertawa sampai perut mereka geli. Kakek juga tertawa. "Rupanya aku keliru," katanya.
Batang kayu sudah berhenti di tepi tanah yang licin. Bimo naik ke atasnya, lalu meluncur turun ke air. Lili menyusul, lalu Ibu, lalu Kakek. Terakhir, Ayah yang basah kuyup naik lagi.
Sungai berkilau, air bercipratan, dan semua berang-berang bertumpuk jadi satu di tepian, hangat dan basah.