Keluarga dan rumahIndonesia
Pondok di Bawah Lampu
"Aku bisa sendiri, Kakek," kata Tia.
Tia sedang liburan di rumah Kakek. Malam ini ia ingin tidur di pondok buatannya sendiri, di sudut ruang tengah, dekat lampu tua Kakek. Lampu itu aneh. Setiap ada yang tertawa di dekatnya, cahayanya jadi lebih terang. Semua orang di rumah itu tahu, dan tidak ada yang heran.
Kakek duduk di kursi goyang. Ia sibuk mencari kacamatanya. "Ke mana ya, kacamata Kakek?" gumamnya.
Tia mulai bekerja. Ia menyusun bantal jadi dinding, satu, dua, tiga. Lalu ia menaruh sarung di atasnya sebagai atap. Plop! Sarungnya jatuh.
"Aku bisa sendiri," bisik Tia.
Ia mencoba lagi. Sarung ia sampirkan di dua kursi. Tapi bagian tengahnya melorot, seperti awan yang mengantuk. Plop! Jatuh lagi.
Tia cemberut. Ia ingin minta tolong, tapi lidahnya terasa berat. Jadi ia diam saja.
Kakek bangkit dan berjalan mondar-mandir. "Kacamata, kacamata, di mana kamu?"
Tia menoleh. Kacamata itu ada di atas kepala Kakek!
"Hihihi!" Tia tertawa. Lampu tua itu langsung bersinar terang, seperti bulan kecil. Dalam cahaya itu, Tia melihat tongkat Kakek bersandar di dinding.
Tia punya ide. Tongkat itu bisa jadi tulang atap!
"Kakek, boleh aku pinjam tongkatnya?"
"Boleh, Nak," kata Kakek. Ia hanya menyerahkan tongkat itu, lalu kembali mencari kacamata.
Tia meletakkan tongkat di atas dua kursi. Sarung ia sampirkan di atasnya, ujung-ujungnya ia tindih dengan bantal. Kali ini sarungnya tidak jatuh. Atapnya tegang dan rapi.
Tia merangkak masuk. Tak lama, Kakek ikut merangkak, pelan-pelan, krek-krek, lututnya berbunyi.
"Kakek, kacamatanya ada di kepala!"
Kakek meraba kepalanya, lalu tertawa. Tia tertawa juga. Lampu bersinar hangat di atas pondok, dan cahayanya menembus sarung, kuning dan lembut di wajah mereka berdua.