Keluarga dan rumahIndonesia
Sup Daun Nenek
Dapur Nenek hangat dan wangi. Tia berdiri di atas bangku kecil dekat kompor.
Hari ini Nenek memasak sup istimewa. Tia ingin membantu.
"Tia, tolong ambil daun kemangi dan serai dari kebun," kata Nenek. "Ikat jadi satu, ya. Sup Nenek tidak enak tanpa itu."
"Siap, Nek!" Tia berlari ke kebun.
Ia memetik daun kemangi dan serai. Tapi baru mau diikat, wus! Angin datang. Daun-daun terbang seperti burung hijau kecil.
Tia mengejarnya. Seekor ayam berkotek dan mematuk satu daun yang jatuh. "Itu bukan untukmu!" kata Tia.
Tia memetik lagi. Kali ini ia memegang daun-daun itu erat-erat dengan dua tangan. Tapi tangannya jadi penuh, dan tali tidak bisa diikat. Wus! Angin datang lagi. Daun-daun pun terbang.
Tia memetik sekali lagi. Ia menyelipkan daun ke dalam saku bajunya. Tetapi ujung daun menyembul keluar. Wus! Angin datang dan menarik semuanya.
Tia duduk di dekat ember air. Ia menghela napas.
Lalu ia melihat sesuatu. Satu daun kemangi jatuh ke genangan air di tanah. Angin meniupnya, tapi daun itu tidak bergerak. Ia basah dan berat.
"Oh!" kata Tia.
Ia memetik daun lagi. Dicelupkannya daun itu ke dalam ember, plup, plup. Lalu ia mengikatnya dengan tali. Angin datang dan mengintip. Daun-daun itu tetap diam di tangan Tia.
Tia berlari ke dapur dengan seikat daun yang menetes-netes.
"Ini, Nek!"
"Wah, pintar," kata Nenek. Ia memasukkan ikatan itu ke dalam panci. Sup mulai berbau segar dan harum.
Di luar, hujan gerimis turun. Bukit di belakang rumah mulai berdengung pelan, seperti kucing besar yang sedang mendengkur.
Tia duduk di bangkunya. Ia mendengar sup mendidih, blub, blub, dan bukit berdengung, mmmm, sementara uap hangat naik ke wajahnya.