Persahabatan dan kebaikanIndonesia
Bayangan yang Terlambat
Beni ingin sekali punya teman baru untuk main di bawah pohon besar.
Pagi itu Beni makan bekal bersama Ibu di tempat piknik. Pohonnya lebar, cukup untuk menaungi semua orang. Bayangan Beni berjalan beberapa langkah di belakangnya, seperti biasa. Bayangan memang selalu terlambat di pagi hari. Baru ketika matahari tepat di atas kepala, mereka menyusul. Tidak ada yang heran. Begitulah bayangan.
Di seberang pohon duduk seorang anak perempuan bernama Sari. Dia memeluk bola kuning dan melihat ke sana kemari.
Beni mencoba yang pertama. Dia melambai. "Halo, Sari!"
Sari menunduk dan memeluk bolanya lebih erat.
Beni mencoba yang kedua. Dia membawa sepotong kue. "Mau kue?"
Sari menggeleng pelan. Beni cemberut dan menendang rumput.
Lalu Beni melihat sesuatu. Sari sedang menoleh ke belakang, lagi dan lagi. Bayangannya tertinggal jauh di sana, dekat akar pohon. Sari kelihatan ingin menunggunya, tetapi tidak tahu caranya.
Beni berlari beberapa langkah. Bayangannya ketinggalan, lalu mengikuti pelan-pelan. Beni berhenti. Dia ingin main sendiri saja, karena meminta tolong itu susah. Tetapi dia menarik napas.
"Sari, bayanganku ketinggalan. Tolong bantu aku menunggunya, ya?"
Sari mengangkat kepala. "Bayanganku juga," katanya kecil.
Mereka berdiri berdampingan. "Tunggu ya, bayangan," kata Beni.
"Tunggu ya, bayangan," kata Sari.
Mereka menunggu. Angin bertiup. Daun pohon bergoyang. Bola kuning menggelinding, tuk, tuk, tuk, sampai berhenti di kaki Beni.
Lalu matahari naik tepat di atas kepala. Bayangan Beni datang berlari dan menempel di bawah sepatunya. Bayangan Sari menyusul, menempel di sebelahnya.
Sari tertawa. Beni juga.
Sari menendang bola kuning pelan-pelan ke arah Beni, dan dua bayangan kecil ikut melompat di tanah.