Langsung ke konten

Keluarga dan rumahIndonesia

Kacang Kecil di Rumah Baru

Rumah baru itu berdiri di bawah sebuah pohon besar. Tia berdiri di depan pintunya sambil memeluk cangkir.

Di dalam cangkir ada tanah, dan di dalam tanah ada kecambah kecil bernama Kacang. Tia ingin Kacang tetap segar sampai besok. Besok Ayah akan menggali kebun, dan Kacang akan punya rumah juga.

Di dalam, kardus ada di mana-mana. "Siapa sih yang punya ide membawa kecambah ini?" tanya Ibu.

"Bukan ide Ayah," kata Ayah.

"Ibu juga bukan," kata Ibu.

Tia tidak ikut berdebat. Ia sibuk menjaga Kacang.

Tia menaruh cangkir di dekat jendela. Matahari panas sekali, dan daun Kacang jadi lemas. "Belum di sini, Kacang," kata Tia.

Ia memindahkan cangkir ke dalam kardus yang teduh. Di situ gelap. Kacang miring, mencari terang. "Belum di sini, Kacang," kata Tia lagi. Ia mengangkat cangkir cepat-cepat, dan plop! Cangkir jatuh ke lantai. Tanahnya tumpah.

Tia memungut tanah dengan dua tangan. Pelan-pelan ia memasukkan Kacang kembali. Untung Kacang masih tegak.

Tia membawa cangkirnya ke halaman. Di sana Pak Joko, tetangga sebelah, berdiri menatap pohon besar sambil menghitung dengan jarinya.

"Semalam bulan purnama," kata Pak Joko. "Pohon ini dapat satu lingkaran daun lagi. Aku mau menghitung semuanya."

Pohon itu memang begitu. Tidak ada yang heran.

Tia ikut menengadah, lalu menunduk. Di tanah ada bayangan daun yang bergoyang. Ada bintik terang, ada bintik teduh, sejuk seperti selimut tipis.

Tia menaruh cangkir di sana. Tidak panas. Tidak gelap.

"Di sini, Kacang," bisik Tia.

Daun Kacang pelan-pelan terbuka.

"Delapan belas!" kata Pak Joko senang.

Tia duduk di samping cangkir. Angin bertiup, dan daun-daun di atas berbisik srek, srek. Bintik-bintik cahaya menari di daun Kacang, naik dan turun, naik dan turun.