Persahabatan dan kebaikanIndonesia
Perahu Daun Ito
"Perahuku patah!" teriak Ito di tepi sungai, dan Rani berhenti berlari.
Rani melihat ke bawah. Di dekat sandalnya ada ranting patah dan selembar daun yang penyok. Oh. Tadi ia berlari terlalu cepat dan tidak melihat.
Hari ini Rani ingin sekali lomba perahu dengan Ito. Mereka sudah menunggu sejak pagi. Perahu daun itu buatan Ito sendiri, dan hanya itu perahunya.
"Maaf, ya," kata Rani cepat-cepat.
Ito mengusap hidungnya. "Perahunya tetap patah."
Rani berpikir. Ia mengeluarkan perahunya sendiri dari tas. "Ini, pakai punyaku saja."
Ito menggeleng. "Aku mau punyaku."
Rani duduk di atas batu licin di sebelah Ito. Dahan pohon yang menjuntai menyentuh pipinya. Geli. Rani memandang potongan perahu itu. Layar daunnya masih bagus. Hanya rantingnya yang patah dua.
Rani menarik napas.
"Maaf, Ito," katanya pelan. "Aku menginjak perahumu karena aku berlari terus. Pasti sedih sekali, ya."
Ito menoleh. Matanya masih basah. "Iya. Sedih."
"Maaf, Ito. Aku mau bantu memperbaikinya."
Ito diam sebentar. Lalu ia mengangguk kecil.
Rani menarik seuntai serat hijau dari dahan yang menjuntai. Ia menyambung dua ranting itu, dan Ito memegang layarnya erat-erat. Mereka mengikat dan menarik. Sret!
Perahu itu mereka letakkan di air. Plung! Perahu berputar-putar, lalu meluncur mundur.
"Perahunya mau pulang!" kata Rani.
Ito tertawa sampai bahunya bergoyang. Rani juga. Ito mengambil perahunya, memutarnya ke depan, lalu melepasnya lagi.
Sekarang perahu Ito dan perahu Rani berdampingan di air. Layar daun mereka berdesir. Air sungai berkecipak pelan di batu-batu, dan dahan yang menjuntai menggelitik permukaan sungai, seperti ikut menonton.