Perasaan dan emosiIndonesia
Nia dan Lonceng Angin
"Hei, kamu yang di jendela! Ayo main sini!" panggil seorang anak dari halaman. Nia cepat-cepat menarik kepalanya ke balik tirai.
Nia baru tiga hari tinggal di rumah itu. Dari jendela kamarnya, ia melihat halaman dengan pohon jambu besar. Anak-anak bermain di sana. Nia ingin sekali ikut. Tetapi saat ia sampai di depan pintu, kakinya seperti menempel di lantai.
Ia mencoba melambai. Tangannya malah masuk lagi, seperti siput masuk ke cangkang. Ia mencoba membawa bola ke tangga. Kakinya menempel lagi. Nia kembali ke jendela dan menyiram pot-pot kecilnya yang berjajar di ambang jendela.
Di ujung gang ada lonceng kecil. Lonceng itu berbunyi sendiri setiap kali angin berganti arah. Semua orang sudah biasa. Ting-tong!
Tiba-tiba terdengar suara sedih di bawah. "Layanganku!"
Nia mengintip. Layangan merah milik Bima tersangkut di dahan jambu. Anak-anak menarik dahan itu dengan galah. Dahannya melengkung, tetapi layangan tetap tidak mau lepas. Dahan itu melengkung lagi, lalu kembali lagi.
Nia berpikir. Lalu ia ingat lonceng di ujung gang. Kalau angin pindah arah, lonceng berbunyi. Mungkin angin yang pindah itu bisa meniup layangan lepas.
"Tunggu lonceng," kata Nia, pelan sekali.
"Apa?" tanya Bima.
Nia menarik napas. "Tunggu lonceng!" katanya lebih keras. "Nanti anginnya pindah!"
Semua anak diam dan menunggu. Lalu terdengar, ting-tong! Angin berbalik. Dahan jambu bergoyang, dan layangan merah terlepas. Ia melayang naik, berputar, lalu hop! mendarat di kepala Nia seperti topi.
Anak-anak tertawa. Nia juga tertawa, sedikit.
"Terima kasih!" teriak Bima. "Turun, yuk!"
Nia memegang layangan itu dengan dua tangan. Ia berjalan ke pintu dan membukanya pelan-pelan. Di luar, angin sejuk menyentuh pipinya. Ekor layangan bergoyang di tangannya, dan di ujung gang, lonceng berbunyi lagi, ting-tong, seperti ikut menunggu.