Perasaan dan emosiIndonesia
Tika, Kokom, dan Batu Hangat
Tika bisa bersiul seperti burung kutilang, dan tidak ada anak lain di kebun itu yang bisa.
Setiap pagi Tika duduk di batu datar dekat pagar bersama Nenek. Mereka menunggu bunga-bunga mekar. Di kebun itu, setiap bunga mekar pada jamnya sendiri. Bunga merah muda mekar saat matahari baru naik. Bunga kuning mekar sesudahnya. Kalau Tika bersiul, Nenek tersenyum.
Tapi sekarang Nenek pergi menengok Bibi. Sudah dua malam Nenek tidak ada. Tika kangen Nenek. Ia ingin duduk di batu datar, seperti biasa.
Namun di atas batu sudah ada Kokom, si ayam betina cokelat. Ia duduk bulat seperti bola bulu.
“Kokom, boleh aku duduk di situ?”
“Kok,” kata Kokom. Ia tidak bergeser.
Tika memberinya jagung. Kokom makan, tuk-tuk-tuk, lalu duduk lagi di tempat yang sama.
Tika duduk di rumput. Rumputnya basah dan dingin. Dari sana ia tidak bisa melihat bunga dengan baik. Kangen Nenek, pikirnya, dan bibirnya mulai bergetar.
Lalu ia melihat selendang Nenek tersangkut di pagar. Itu kain panjang yang selalu Nenek pakai di bahunya. Tika mengambilnya dan menciumnya. Baunya minyak kayu putih. Baunya Nenek!
Tika melebarkan selendang itu di rumput dan duduk di atasnya. Ia menarik ujungnya ke bahu, hangat dan lembut seperti bulu anak ayam. Sekarang ia duduk tepat di sebelah batu.
Kokom berdiri, mengibas sayap, “Kluk!” Di bawahnya ada sebutir telur kecil. Kokom menatap Tika, lalu duduk lagi di atas telurnya.
“Oh,” bisik Tika. “Kamu menjaga telurmu tetap hangat.”
Matahari naik. Bunga merah muda membuka kelopaknya, pelan sekali.
Tika bersiul seperti kutilang. Siulannya melayang melewati pagar.
Lalu dari pohon di ujung jalan terdengar siulan lain, tipis dan jauh, membalasnya.
Tika bersiul lagi. Kokom berkokok kecil. Dan siulan di pohon itu menjawab sekali lagi.