Langsung ke konten

Perasaan dan emosiIndonesia

Awan Nana dan Tetes Pertama

Nana, si awan kecil, sedang memeras dirinya kuat-kuat. Ia melayang di atas pondok kayu di kaki bukit. Di bawahnya ada kebun tomat milik Nenek, dan daun-daunnya mulai layu.

"Aku mau menurunkan hujan untuk tomat Nenek," kata Nana. "Satu tetes saja dulu."

Ia memeras lagi. Pffft. Yang keluar cuma kabut tipis, seperti napas di kaca jendela.

Di teras pondok, ayunan berderit pelan ditiup angin. Seekor kodok duduk di anak tangga paling bawah.

"Aku menunggu genangan air," kata si kodok. "Aku mau bernyanyi di dalamnya. Cepatlah sedikit, ya."

Nana mencoba cara lain. Ia melompat naik turun, naik turun. Tubuhnya berubah jadi bentuk kelinci, lalu bentuk sepatu. Tidak ada setetes pun yang jatuh.

"Bagus sekali kelincinya," kata kodok. "Tapi itu bukan hujan."

Nana berhenti. Perutnya terasa berat dan dingin. Ia memandang bukit. Di sana ada kincir angin tua yang selalu berputar mundur kalau tidak ada yang melihatnya. Semua orang tahu itu, dan tidak ada yang heran. Nana menoleh cepat. Kincir itu langsung berputar maju, pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Tapi Nana tidak tertawa. Ia terlalu sedih.

"Aku kecil sekali," bisiknya. "Aku tidak bisa."

Lalu sesuatu bergulir pelan di dalam dirinya, makin lama makin besar. Sebutir air bening meluncur turun dan jatuh.

Tik!

Setetes mendarat di daun tomat paling layu. Daun itu bergoyang sedikit.

"Oh!" kata Nana. "Itu dia!"

Satu tetes sudah pergi, dan yang lain ikut menyusul. Tik, tik, tik-tik-tik. Hujan turun dari perut Nana yang kecil. Ia melirik kincir. Kincir itu berputar mundur lagi, dan Nana terkikik sampai hujannya makin deras.

Genangan pertama muncul di bawah tangga. Kodok melompat masuk.

"Krooook!" nyanyi kodok.

Atap seng pondok berbunyi tik-tik-tik, dan ayunan di teras berderit pelan, pelan sekali.