Perasaan dan emosiIndonesia
Tika dan Sumur yang Terlambat
Tika adalah satu-satunya anak di Kampung Semak yang selalu menangis diam-diam.
Kalau sedih, ia lari dan bersembunyi. Pagi itu layang-layangnya robek, tersangkut di dahan pohon. Dada Tika sesak seperti balon yang terlalu penuh. Ia ingin menangis, tetapi tidak boleh ada yang melihat.
Ia masuk ke kebun semak yang dipangkas setinggi pas untuk bersembunyi. Di sudut pertama, ia jongkok.
"Hik," katanya pelan.
"Hik," kata sesuatu, sebentar kemudian.
Tika menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
Ia pindah ke sudut kedua. "Hik." Sebentar kemudian, "hik." Ia pindah ke sudut ketiga. Hasilnya sama saja.
"Siapa itu?" bisik Tika.
"Siapa itu?" bisik suara itu, terlambat sedikit.
Tika mengintip ke balik semak. Hanya ada daun dan seekor semut. Ia duduk diam dan mendengarkan baik-baik. Suara itu selalu datang sesudah suaranya sendiri, seperti bola yang memantul pulang. Dan suara itu datang dari tengah kebun.
Tika berjalan ke sana. Di tengah kebun ada sebuah sumur tua. Ia ingat sekarang: sumur itu selalu menjawab terlambat satu tarikan napas.
Pak Darto, tukang kebun, sedang menurunkan ember. Plung! Ia mau mengambil air untuk menyiram semak. Ia melihat mata Tika yang merah, lalu hanya mengangguk dan terus menimba.
Tika memegang tepi sumur. "Layang-layangku robek!" serunya.
"...robek!" jawab sumur.
Dada Tika bergetar. Ia pun menangis, sungguh-sungguh dan keras. "Huaaa!"
Sebentar kemudian, dari dalam sumur, "Huaaa!"
Tika tertawa. Lalu ia menangis lagi, dan sumur menangis lagi, dan Tika tertawa lagi, sampai perutnya geli.
Pak Darto menyiram semak sambil bersiul.
Akhirnya Tika berhenti. Napasnya pelan dan hangat. Angin lewat di pipinya yang basah, terasa sejuk.
"Hik," kata Tika, sekali saja.
Dan dari dalam sumur, sebentar kemudian, terdengar "hik" yang kecil dan lembut.