Langsung ke konten

Hewan dan alamIndonesia

Kiki Dan Awan Kecil

Kiki melompat-lompat di halaman, telinganya tegak. Tik, tik, tik. Bunyi itu datang dari atap rumah.

Setiap sore, awan kecil berhenti di atas atap rumah Kiki. Hanya di atas atap itu, tidak di tempat lain. Hujannya jatuh tik, tik, tik, dan halaman tetap kering. Semua orang sudah biasa. Tapi Kiki, anak kucing belang, belum pernah melihat awan itu dari dekat.

"Aku mau lihat dia," kata Kiki.

Ia memanjat pohon jambu. Dahannya kecil dan bergoyang-goyang. Kiki turun lagi dengan ekor mengembang.

Ia mencoba cara lain. Ia menyeret kardus ke dinding, menaruh ember di atasnya, lalu bangku kecil di atas ember. Kiki naik satu, dua, tiga. Bruk! Ember menggelinding dan kardus penyok.

Bebek Beni lewat sambil berjalan goyang. "Kwek! Aku datang untuk kubangan, bukan untuk menolongmu," katanya. Ia duduk di kubangan di bawah talang, tempat air atap menetes. Lalu ia menutup mata, senang sekali.

Kiki duduk dan cemberut. Tik, tik, tik. Ia memandangi air yang meluncur dari atap, turun ke talang, lalu masuk ke kubangan Beni. Di sebelah talang ada jendela dapur. Di bawah jendela ada tong kayu, dan di atas tong itu ada ambang yang lebar.

"Oh," kata Kiki pelan.

Ia melompat ke tong. Hap! Ia melompat lagi ke ambang jendela. Dari sana, tepi atap hanya sejauh satu langkah kecil. Kiki menjulurkan kepala.

Awan itu ada di sana, bulat dan putih seperti bola wol Nenek. Ia bergoyang sedikit, seperti sedang bernapas.

Satu tetes jatuh tepat di hidung Kiki.

Tik.

Kiki berkedip. Lalu ia duduk manis di ambang jendela, dan hujan kecil itu mengetuk-ngetuk bulu di punggungnya, tik, tik, tik.