Langsung ke konten

Hewan dan alamIndonesia

Bayam Penuh Kepik

Pagi itu daun bayam di kebun Nenek berbintik-bintik merah, dan bintik-bintik itu bergerak.

Nia menunduk dekat sekali. Ternyata kepik! Badannya bulat seperti kancing baju, dengan titik hitam di punggung. Ada kepik di setiap daun. Seratus, mungkin seribu.

Nia membawa mangkuk. Ibu minta daun bayam untuk sup. Nia ingin sekali membawa pulang daunnya tanpa mengganggu satu kepik pun.

"Pelan-pelan, kepik," bisik Nia. Ia meniup daun dengan lembut. Kepik tidak mau pergi. Kaki-kaki kecil mereka berpegangan erat.

Nia mengetuk daun dengan jarinya. Brrr! Sayap-sayap tipis terbuka, dan kepik beterbangan. Tapi mereka hanya hinggap lagi di daun sebelah. Daun yang tadi kosong sekarang penuh di tempat lain.

"Aduh," kata Nia. "Kalian pindah-pindah terus."

Nenek lewat membawa ember. "Mereka sedang sarapan, Nia. Di daun ada kutu hijau yang kecil sekali. Kepik suka makan kutu itu."

"Jadi mereka lapar," kata Nia.

"Lapar sekali," kata Nenek, lalu pergi menyiram bunga.

Nia duduk di tanah dan berpikir. Ia melihat seekor kepik berjalan di batang bayam. Kepik itu terus naik, naik, sampai ke ujung paling atas. Lalu Nia punya ide.

Ia mengulurkan satu jari dan menaruhnya di dekat kepik itu. Kepik itu berjalan naik ke jarinya. Satu, dua, tiga kepik naik. Nia membawa mereka pelan-pelan ke bedeng bayam di ujung kebun, yang daunnya tidak dipetik hari ini.

"Pelan-pelan, kepik," bisiknya. "Sarapan di sini ya."

Bolak-balik, bolak-balik, Nia memindahkan kepik di jarinya. Daun-daun di bedeng depan pun kosong, hijau dan bersih.

Nia memetik daun bayam satu per satu sampai mangkuknya penuh. Satu kepik masih tertinggal. Ia berjalan di hidung Nia, geli sekali.

"Hihi," kata Nia, dan ia diam tidak bergerak.

Brrr! Kepik itu terbang tinggi, lalu hinggap di daun bayam yang jauh.